Cari Blog Ini

Minggu, 11 September 2011

ASKEP IDIOPATIK TROMBOSITOPENI PURPURA (ITP)

1. DEFINISI
ITP adalah suatu keadaan perdarahan berupa petekie atau ekimosis di kulit / selaput lendir dan berbagai jaringan dengan penurunan jumlah trombosit karena sebab yang tidak diketahui. (ITP pada anak tersering terjadi pada umur 2 – 8 tahun), lebih sering terjadi pada wanita. (Kapita selekta kedokteran jilid 2).
ITP adalah salah satu gangguan perdarahan didapat yang paling umum terjadi.(Perawatan Pediatri Edisi 3)
ITP adalah syndrome yang di dalamnya terdapat penurunan jumlah trombosit yang bersirkulasi dalam keadaan sum-sum normal.
2. ETIOLOGI
a. Penyebab pasti belum diketahui (idiopatik).
b. Tetapi kemungkinan akibat dari:
- Hipersplenisme.
- Infeksi virus.
- Intoksikasi makanan / obat (asetosal para amino salisilat (PAS). Fenil butazon, diamokkina, sedormid).
- Bahan kimia.
- Pengaruh fisi (radiasi, panas).
- Kekurangan factor pematangan (malnutrisi).
- Koagulasi intra vascular diseminata CKID.
- Autoimnue.
3. JENIS ITP
a. Awalnya dijumpai trombositopenia pada anak.
- Jumlah trombosit kembali normal dalam 6 bulan setelah diagnosis (remisi spontan).
- Tidak dijumpai kekambuhan berikutnya.
b. Kronik
- Trombositopenia berlangsung lebih dari 6 bulan setelah diagnosis.
- Awitan tersembunyi dan berbahaya.
- Jumlah trombosit tetap di bawah normal selama penyakit.
- Bentuk ini terutama pada orang dewasa.
c. Kambuhan
- Mula-mula terjadi trombositopenia.
- Relaps berulang.
- Jumlah trombosit kembali normal diantara waktu kambuh.
4. MANIFESTASI KLINIS
Awitan biasanya akut dengan gambaran sebagai berikut:
a. Masa prodormal, keletihan, demam dan nyeri abdomen.
b. Secara spontan timbul petekie dan ekimosis pada kulit.
c. Epistaksis.
d. Perdarahan mukosa mulut.
e. Menoragia.
f. Memar.
g. Anemia terjadi jika banyak darah yang hilang karena perdarahan.
h. Hematuria.
i. Melana.
5. PATOFISIOLOGI
ITP adalah salah satu gangguan perdarahan di dapat yang paling umum terjadi. ITP adalah syndrome yang di dalamnya terdapat penurunan jumlah trombosit yang bersirkulasi dalam keadaan sum-sum normal. Penyebab sebenarnya tidak diketahui, meskipun diduga disebabkan oleh agen virus yang merusak trombosit. Pada umumnya gangguan ini didahului oleh penyakit dengan demam ringan 1 – 6 minggu sebelum timbul gejala. Gangguan ini dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu akut, kronik dan kambuhan. Pada anak-anak mula-mula terdapat gejala diantaranya demam, perdarahan, petekie, purpura dengan trombositopenia dan anemia.
Protein pada permukaan trombosit yang dianggap benda asing merangsang system imun untuk membentuk antibody. Reseptor yang dianggap antigen tersebut adalah glikoprotein I-b/IX sebagai reseptor fakta von Willebrand pada proses adhesi dan glikoprotein II-b/III-a sebagai reseptor fibrinogen dan factor von Willebrand pada proses agregasi trombosit. Selanjutnya terjadi ikatan komplek imun dengan reseptor Fc dari makrofag dan terjadi fagositosis, sehingga trombosit hancur. Disamping itu, terjadi juga aktivasi dan fiksasi komplemen C 5-9 pada permukaan trombosit yang menyebabkan lisisnya trombosit.
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Hitung darah lengkap dan jumlah trombosit menunjukkan penurunan hemoglobin, hematokrit, trombosit (trombosit di bawah 20 ribu / mm3).
b. Anemia normositik: bila lama berjenis mikrositik hipokrom.
c. Leukosit biasanya normal: bila terjadi perdarahan hebat dapat terjadi leukositosis. Ringan pada keadaan lama: limfositosis relative dan leucopenia ringan.
d. Sum-sum tulang biasanya normal, tetapi megakariosit muda dapat bertambah dengan maturation arrest pada stadium megakariosit.
e. Masa perdarahan memanjang, masa pembekuan normal, retraksi pembekuan abnormal, prothrombin consumption memendek, test RL (+).
6. PENATALAKSANAAN
a. ITP Akut
- Ringan: observasi tanpa pengobatan → sembuh spontan.
- Bila setelah 2 minggu tanpa pengobatan jumlah trombosit belum naik, maka berikan kortikosteroid.
- Bila tidak berespon terhadap kortikosteroid, maka berikan immunoglobulin per IV.
- Bila keadaan gawat, maka berikan transfuse suspensi trombosit.
b. ITP Menahun
- Kortikosteroid diberikan selama 5 bulan. Missal: prednisone 2 – 5 mg/kgBB/hari peroral. Bila tidak berespon terhadap kortikosteroid berikan immunoglobulin (IV).
- Imunosupressan: 6 – merkaptopurin 2,5 – 5 mg/kgBB/hari peroral.
1) Azatioprin 2 – 4 mg/kgBB/hari per oral.
2) Siklofosfamid 2 mg/kgBB/hari per oral.
3) Splenektomi.
4) Indikasi:
- Resisten terhadap pemberian kortikosteroid dan imunosupresif selama 2 – 3 bulan.
- Remisi spontan tidak terjadi dalam waktu 6 bulan pemberian kortikosteroid saja dengan gambaran klinis sedang sampai berat.
- Penderita yang menunjukkan respon terhadap kortikosteroid namun perlu dosis tinggi untuk mempertahankan klinis yang baik tanpa perdarahan.
Kontra indikasi:
Anak usia sebelum 2 tahun: fungsi limpa terhadap infeksi belum dapat diambil alih oleh alat tubuh yang lain (hati, kelenjar getah bening dan thymus).


KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Asimtomatik sampai jumlah trombosit menurun di bawah 20.000.
b. Tanda-tanda perdarahan.
- Petekie terjadi spontan.
- Ekimosis terjadi pada daerah trauma minor.
- Perdarahan dari mukosa gusi, hidung, saluran pernafasan.
- Menoragie. (menstruasi yang berlebihan)
- Hematuria. (seperti kencing darah)
- Perdarahan gastrointestinal.
c. Perdarahan berlebih setelah prosedur bedah.
d. Aktivitas / istirahat.
Gejala : – keletihan, kelemahan, malaise umum.
- toleransi terhadap latihan rendah.
Tanda : – takikardia / takipnea (pernapasan yang sangat cepat), dispnea pada beraktivitas / istirahat.
- kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
e. Sirkulasi.
Gejala : – riwayat kehilangan darah kronis, misalnya perdarahan GI kronis, menstruasi berat.
- palpitasi (takikardia kompensasi).
Tanda : – TD: peningkatan sistolik dengan diastolic stabil.
f. Integritas ego.
Gejala : keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan: penolakan transfuse darah.
Tanda : DEPRESI.
g. Eliminasi.
Gejala : Hematemesis, feses dengan darah segar, melena, diare, konstipasi.
Tanda : distensi abdomen.
h. Makanan / cairan.
Gejala : – penurunan masukan diet.
- mual dan muntah.
Tanda : turgor kulit buruk, tampak kusut, hilang elastisitas.
i. Neurosensori.
Gejala : – sakit kepala, pusing.
- kelemahan, penurunan penglihatan.
Tanda : – epistaksis.
- mental: tak mampu berespons (lambat dan dangkal).
j. Nyeri / kenyamanan.
Gejala : nyeri abdomen, sakit kepala.
Tanda : takipnea, dispnea.
k. Pernafasan.
Gejala : nafas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tanda : takipnea, dispnea.
l. Keamanan
Gejala : penyembuhan luka buruk sering infeksi, transfuse darah sebelumnya.
Tanda : petekie, ekimosis.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Gangguan pemenuhan nutrisi dan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
b. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrisi ke sel.
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen darah.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
e. Kurang pengetahuan pada keluarga tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.


1. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
a. Gangguan pemenuhan nutrisi dan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan:
o Menghilangkan mual dan muntah
Criteria standart:
o Menunjukkan berat badan stabil
Intervensi keperawatan:
o Berikan nutrisi yang adekuat secara kualitas maupun kuantitas.
Rasional : mencukupi kebutuhan kalori setiap hari.
o Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional : porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan yang sesuai dengan kalori.
o Pantau pemasukan makanan dan timbang berat badan setiap hari.
Rasional : anoreksia dan kelemahan dapat mengakibatkan penurunan berat badan dan malnutrisi yang serius.
o Lakukan konsultasi dengan ahli diet.
Rasional : sangat bermanfaat dalam perhitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.
o Libatkan keluarga pasien dalam perencanaan makan sesuai dengan indikasi.
Rasional : meningkatkan rasa keterlibatannya, memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien.
b. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrisi ke sel.
Tujuan:
o Tekanan darah normal.
o Pangisian kapiler baik.
Kriteria standart:
o Menunjukkan perbaikan perfusi yang dibuktikan dengan TTV stabil.
Intervensi keperawatan:
o Awasi TTV, kaji pengisian kapiler.
Rasional : memberikan informasi tentang derajat/ keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan intervensi.
o Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi.
Rasional : meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler.
o Kaji untuk respon verbal melambat, mudah terangasang.
Rasional : dapat mengindikasikan gangguan fungsi serebral karena hipoksia.
o Awasi upaya parnafasan, auskultasi bunyi nafas.
Rasional : dispne karena regangan jantung lama / peningkatan kompensasi curah jantung.
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen darah.
Tujuan:
o Mengurangi distress pernafasan.
Criteria standart:
o Mempertahankan pola pernafasan normal / efektif
Intervensi keperawatan:
o Kaji / awasi frekuensi pernafasan, kedalaman dan irama.
Rasional : perubahan (seperti takipnea, dispnea, penggunaan otot aksesoris) dapat menindikasikan berlanjutnya keterlibatan / pengaruh pernafasan yang membutuhkan upaya intervensi.
o Tempatkan pasien pada posisi yang nyaman.
Rasional : memaksimalkan ekspansi paru, menurunkan kerja pernafasan dan menurunkan resiko aspirasi.
o Beri posisi dan Bantu ubah posisi secara periodic.
Rasional : meningkatkan areasi semua segmen paru dan mobilisasikan sekresi.
o Bantu dengan teknik nafas dalam.
Rasional : membantu meningkatkan difusi gas dan ekspansi jalan nafas kecil.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
Tujuan:
o Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas.
Criteria standart:
o Menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas.
Intervensi keperawatan:
o Kaji kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas normal, catat laporan kelemahan, keletihan.
Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi.
o Awasi TD, nadi, pernafasan.
Rasional : manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk emmbawa jumlah oksigen ke jaringan.
o Berikan lingkungan tenang.
Rasional : meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh.
o Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.
Rasional : hipotensi postural / hipoksin serebral menyebabkan pusing, berdenyut dan peningkatan resiko cedera.
e. Kurang pengetahuan pada keluarga tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.
Tujuan:
o Pemahaman dan penerimaan terhadap program pengobatan yang diresepkan.
Criteria standart:
o Menyatakan pemahaman proses penyakit.
o Faham akan prosedur dagnostik dan rencana pengobatan.
Intervensi keperawatan:
o Berikan informasi tntang ITP. Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung pada tipe dan beratnya ITP.
Rasional : memberikan dasar pengetahuan sehingga keluarga / pasien dapat membuat pilihan yang tepat.
o Tinjau tujuan dan persiapan untuk pemeriksaan diagnostic.
Rasional : ketidak tahuan meningkatkan stress.
o Jelaskan bahwa darah yang diambil untuk pemeriksaan laboratorium tidak akan memperburuk ITP.
Rasional : merupakan kekwatiran yang tidak diungkapkan yang dapat memperkuat ansietas pasien / keluarga.

Kamis, 21 April 2011

Askep Infeksi puerperalis

A.Konsep Dasar Penyakit
1.Pengertian
Infeksi puerperalis adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman-kuman ke dalam alat-alat genetalia pada waktu persalinan dan nifas (Sarwono Prawirohardjo, 2005 : 689 ).
Infeksi puerperalis adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-alat genetalia dalam masa nifas (Mochtar Rustam, 1998 : 413).
Jadi, yang dimaksud dengan infeksi puerperalisa adalah infeksi bakteri pada traktus genetalia yang terjadi setelah melahirkan, ditandai dengan kenaikan suhu hingga 38ᵒC atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan dengan mengecualikan 24 jam pertama.

2.Etiologi
Penyebab dari infeksi puerperalis ini melibatkan mikroorganisme anaerob dan aerob patogen yang merupakan flora normal serviks dan jalan lahir atau mungkin juga dari luar. Penyebab yang terbanyak dan lebih dari 50 % adalah streptococcus dan anaerob yang sebenarnya tidak patogen sebagai penghuni normal jalan lahir. Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi puerperalis antara lain :
o Streptococcus haematilicus aerobic
Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat yang ditularkan dari penderita lain , alat alat yang tidak steril , tangan penolong , dan sebagainya.
o Staphylococcus aurelis
Masuk secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi di rumah sakit
o Escherichia coli
Sering berasal dari kandung kemih dan rectum , menyebabkan infeksi terbatas
o Clostridium welchii
Kuman anaerobik yang sangat berbahaya , sering ditemukan pada abortus kriminalis dan partus yang ditolong dukun dari luar rumah sakit.
3.Faktor predisposisi
Faktor predisposisi dari infeksi puerperalis yaitu :
a.Semua tindakan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh ibu seperti perdarahan, anemia, nutrisi buruk, status sosial ekonomi rendah, dan imunosupresi.
b.Partus lama terutama dengan ketuban pecah lama.
c.Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan pada jalan lahir.
d.Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban, dan bekuan darah.

4.Patofisiologi
Setelah kala III, daerah bekas insersio plasenta merupakan sebuah luka dengan diameter kira-kira 4 cm. Permukaannya tidak rata, berbenjol – benjol karena banyak vena yang ditutupi trombus. Daerah ini merupakan tempat yang baik untuk tumbuhnya kuman-uman dan masuknya jenis-jenis yang patogen dalam tubuh wanita. Serviks sering mengalami perlukaan pada persalinan, demikian juga vulva, vagina dan perineum yang semuanya merupakan tempat masuknya kuman-kuman patogen. Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau menyebar di luar luka asalnya. Adapun infeksi dapat terjadi sebagai berikut:
a.Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain adalah bahwa sarung tangan atau alat – alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman-kuman.
b.Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau petugas lainnya yang berada di ruangan tersebut. Oleh karena itu, hidung dan mulut petugas yang bertugas harus ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran nafas dilarang memasuki kamar bersalin.
c.Dalam rumah sakit selalu banyak kuman-kuman patogen, berasal dari penderita dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara kemana-mana, antara lain ke handuk, kain-kain yang tidak steril, dan alat-alat yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau pada waktu nifas.
d.Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali jika menyebabkan pecahnya ketuban.
e.Infeksi Intrapartum sudah dapat memperlihatkan gejala-gejala pada waktu berlangsungnya persalinan. Infeksi intraparum biasanya terjadi pada waktu partus lama, apalagi jika ketuban sudah lam pecah dan beberapakali dilakukan pemeriksaan dalam. Gejal-gejala ialah kenaikan suhu, biasanya disertai dengan leukositosis dan takikardia; denyut jantung janin dapat meningkat pula. Air ketuban biasanya menjadi keruh dan berbau. Pada infeksi intra partum kuman-kuman memasuki dinding uterus pada waktu persalinan, dan dengan melewati amnion dapat menimbulkan infeksi pula pada janin.

5.Klasifikasi
Infeksi puerperalis dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu :
1)Infeksi yang terbatas pada perineum , vulva , vagina , serviks , dan endometrium .
a.Infeksi perineum, vulva, dan serviks
Tanda dan gejalanya :
•Rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi, disuria, dengan atau tanpadistensi urine.
•Jahitan luka mudah lepas, merah, dan bengkak.
•Bila getah radang bisa keluar, biasanya keadaan tidak berat, suhu sekitar 38ᵒC, dan nadi kurang dari 100x/menit.
•Bila luka terinfeksi tertutup jahitan dan getah radang tidak dapat keluar, demam bisa meningkat hingga 39-40ᵒ C, kadang-kadang disertai menggigil.

b.Endometritis
•Kadang –kadang lokhea tertahan dalam uterus oleh darah sisa plasenta dan selaput ketuban yang disebut lokiametra.
•Pengeluaran lokia bisa banyak atau sedikit, kadang-kadang berbau/tidak, lokhea berwarna merah atau coklat.
•Suhu badan meningkat mulai 48 jam postpartum, menggigil, nadi biasanya sesuai dengan kurva suhu tubuh.
•Sakit kepala, sulit tidur, dan anoreksia.
•Nyeri tekan pada uterus, uterus agak membesar dan lembek, his susulan biasanya sangat mengganggu.
•Leukositosis dapat berkisar antara 10.000-13.000/mm³.

2)Penyebaran dari tempat tersebut melalui vena , jalan limfe dan permukaan dan endometrium.
a.Septikemia dan piemia
•Pada septikemia, sejak permulaan klien sudah sakit dan lemah sampai 3 hari postpartum suhu meningkat dengan cepat. Biasanya disertai menggigil dengan suhu 39-40ᵒC. Keadaan umum cepat memburuk, nadi sekitar 140-160x/menit atau lebih. Klien juga dapat meninggal dalam 6-7 hari postpartum.
•Pada piemia, suhu tubuh klien tinggi disertai dengan menggigl yang terjadi berulang-ulang. Suhu meningkat dengan cepat kemudian suhu turun dan lambat laun timbul gejala abses paru, pneumonia, dan pleuritis.

b.Peritonotis
•Pada umumnya terjadi peningkatan suhu, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri,serta ada defensif muskuler. Wajah klien mula-mula kemrahan, kemudian menjadi pucat, mata cekung, kulit wajah dingin, serta terdapat facishipocratica.
•Pada peritonitis yang terdapat di daerah pelvis, gejala tidak seberat peritonis umum klien demam, perut bawah nyeri,tetapi keadaan umum tetap baik.

c.Selulitis pelvis
•Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai rasa nyeri di kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, patut dicurigai adanya selulitis pelvic.
•Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri di sebelah uterus.
•Di tengah jaringan yang meradang itu bisa timbul abses dimana suhu yang mula mula tinggi menetap , menjadi naik turun disertai menggigil.
•Klien tampak sakit, nadi cepat, dan nyeri perut.

6.Gejala klinis
Tanda dan gejala umum dari infeksi puerperalis ini yaitu :
a.Peningkatan suhu
b.Takikardi
c.Nyeri pada pelvis
d.Demam tinggi
e.Nyeri tekan pada uterus
f.Lokhea berbau busuk/ menyengat
g.Penurunan uterus yang lambat
h.Nyeri dan bengkak pada luka episiotomi

7.Pemeriksaan fisik
a.Keadaan Umum : Baik, CM, Tidak Anemis
b.Vital Sign
c.Status Generalis
•Kepala : Konjungtiva tidak anemis, pupil isokor
•Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar limfonodi dan kelenjar tiroid.
•Dada : Pernafasan kanan dan kiri tidak simetris, tidak ada retraksi, tidak ada ronki
•Abdomen : Tenang, supel, NT (-), tidak teraba masa dan tidak nyeri tekan
•Ekstremitas : Tidak ada gangguan gerak dan edema
d.Status Obstetri
Inspeksi :
•Mata : Konjungtiva tidak anemis
•Dada : Hiperpikmentasi papila dan aerola mamae terlihat
•Abdomen : Tenang, Supel, tidak ada nyeri tekan, tidak teraba massa, dan tidak nyeri tekan
•Ekstremitas : Tidak ada edema

8.Pemeriksaan diagnostik
•Jumlah sel darah putih (SDP) : normal atau tinggi dengan pergeseran diferensial ke kiri.
•Laju endap darah (LED) dan jumlah sel darah merah(SDM) sangat meningkat dengan adanya infeksi.
•Hemoglobin atau hematokrit (Hb/Ht) mengalami penurunan pada keadaan anemia.
•Kultur (aerobik/anaerobik) dari bahan intrauterus atau intraservikal atau drainase luka atau perwarnaan gram di uterus mengidentifikasi organisme penyebab.
•Urinalisis dan kultur mengesampingkan infeksi saluran kemih.
•Ultrasonografi menentukan adanya fragmen-fragmen plasenta yang tertahan melokalisasi abses perineum.
•Pemeriksan bimanual : menentukan sifat dan lokal nyeri pelvis, massa atau pembentukan abses, serta adanya vena-vena dengan trombosis.

9.Prognosis
Prognosis baik jika diatasi dengan pengobatan yang sesuai. Menurut derajatnya, septikemia merupakan infeksi paling berat dengan mortalitas tinggi diikuti peritonitis umum.

10.Penatalaksanaan
a.Pencegahan
•Selama kehamilan, bila ibu anemia diperbaiki. Berikan diet yang baik.
•Koitus pada kehamilan tua sebaiknya dilarang.
•Selama persalinan, batasi masuknya kuman di jalan lahir. Jaga persalinan agar tidak berlarut-larut. Selesai persalinan dengan trauma sedikit mungkin. Cegah perdarahan banyak dan penularan penyakit dan petugasdalam kamar bersalin. Alat-alat persalinan harus steril dan lakukan pemeriksaan hanya bila perlu dan atas indikasi tepat.
•Selama nifas rawat higiene perlukaan jalan lahir. Jangan merawat ibu dengan tanda-tanda infeksi nifas bersama dengan wanita dalam nifas yang sehat.

b.Penanganan medis
•Suhu diukur dari mulut sedikitnya empat kali sehari.
•Berikan terapi antibiotik prokain penisilil 1,2-2,4 juta unit 1M penisilin G 500.000 satuan setiap 6 jam atau metisilin 1 gr setiap 6 jam 1 M ditambah dengan ampisilin kapsul 4 x 250 mg per oral.
•Perhatikan diet ibu : diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP).
•Lakukan transfusi darah bila perlu.
•Hati-hati bila ada abses , jaga supaya nanah tidak masuk ke dalam rongga peritoneum.

B.Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1.Pengkajian
a.Aktivitas / istirahat
Malaise, letargi. Kelelahan dan/ atau keletihan yang terus menerus (persalinan lama, stresor pascapartum multipel).
b.Sirkulasi
Takikardia dari dengan berat bervariasi.
c.Eliminasi
Diare mungkin ada. Bising usus mungkin tidak ada jika terjadi paralitik ileus.
d.Integritas ego
Ansietas jelas (peritonitis).
e.Makanan/ cairan
Anoreksia, mual, muntah. Haus, membran mukosa kering. Distensi abdomen, kekauan, nyeri lepas (peritonitis).
f.Neurosensori
Sakit kepala.
g.Nyeri/ ketidaknyaman
Nyeri lokal, disuria, ketidaknyamanan abdomen. Afterpain berat atau lama, nyeri abdomen bawah atau uterus serta nyeri tekan guarding (endometritis). Nyeri/kekakuan abdomen unilateral/ bilateral (salpingitis/ooferitis, parametritis)
h.Pernafasan
Pernafasan cepat/dangkal (berat/proses sistemik)
i.Keamanan
Suhu: 100,4ᵒ F (38,0ᵒ C) atau terjadi lebih tinggi pada dua hari terus menerus, diluar 24 jam pasca partum adalah tanda infeksi. Namun suhu lebih tinggi dari 101ᵒ F (38,9ᵒ C) pada24jam pertama menandakan berlanjutnya infeksi.
Demam ringan kurang dari 101ᵒ F menunjukkan infeksi insisi, demam lebih tinggi dari 102 ᵒ F (38,9ᵒ C) adalah petunjuk atau infeksi lebih berat (misalnya salpingitis, parametritis, peritonitis).
Dapat terjadi menggigil, menggigil berat atau berulang(seringberakhir 30-40 menit), dengan suhu memuncak sampai 104ᵒF, menunjukkan infeksi pelvis, tromboflebitis atau peritonitis.
Melaporkan pemantauan internal, pemeriksaan vagina intra partum sering, kecerobohan pada teknik aseptik.
j.Seksualitas
Pecah ketuban dini atau lama, persalinan lama (24 jam / lebih). Retensi produk konsepsi, eksplorasi uterus atau pengangkatan plasenta secara manual, atau hemoragi pasca partum.
Tepi insisi mungkin kemerahan, edema, keras, nyeri tekan, atau memisah dengan drainase purulen atau cairan sanguinosa. Subinvolusi uterus mungkin ada.
Lokea mungkin bau busuk, tidak ada bau (bila infeksi oleh streptokokal beta hemolitik), banyak atau berlebihan.
k.Interaksi sosial
Status sosio ekonomi rendah dengan stresor bersamaan.

2.Diagnosa keperawatan
a.Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan, jalan lahir, dan infeksi nosokomial.
b.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, anoreksia, mual, muntah, dan pembatasan medis.
c.Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi.
d.Resiko tinggi terhadap perubahan menjadi orang tua berhubungan dengan infeksi pada proses persalinan, penyakit fisik, ancaman yang dirasakan pada kehidupan sendiri.

3.Rencana keperawatan
a.Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan, jalan lahir, dan infeksi nasokomial.
Tujuan 1:mencegah dan mengurangi infeksi.
Intervensi:
•Kaji data pasien dalam ruang bersalin.Infeksi perineum (menggunakan senter yang baik), catat warna, sifat episiotomi dan warnanya. Perkiraan pinggir epis dan kemungkinan “perdarahan” / nyeri.
•Kaji tinggi fundus dan sifat.
•Kaji lochia: jenis, jumlah, warna dan sifatnya. Hubungkan dengan data post partum.
•Kaji payudara: eritema, nyeri, sumbatan dan cairan yang keluar (dari puting). Hubungkan dengan data perubahan post partum masing-masing dan catat apakah klien menyusui dengan ASI.
•Monitor vital sign, terutama suhu setiap 4 jam dan selama kondisi klien kritis. Catat kecenderungan demam jika lebih dari 38o C pada 2 hari pertama dalam 10 hari post partum. Khusus dalam 24 jam sekurang-kurangnya 4 kali sehari.
•Catat jumlah leukosit dan gabungkan dengan data klinik secara lengkap.
•Lakukan perawatan perineum dan jaga kebersihan, haruskan mencuci tangan pada pasien dan perawat. Bersihkan perineum dan ganti alas tempat tidur secara teratur.
•Pertahankan intake dan output serta anjurkan peningkatan pemasukan cairan.
•Bantu pasien memilih makanan. Anjurkan yang banyak protein, vitamin C dan zat besi.
•Kaji bunyi nafas, frekwensi nafas dan usaha nafas. Bantu pasien batuk efektif dan nafas dalam setiap 4 jam untuk melancarkan jalan nafas.
•Kaji ekstremitas: warna, ukuran, suhu, nyeri, denyut nadi dan parasthesi/ kelumpuhan. Bantu dengan ambulasi dini. Anjurkan mengubah posisi tidur secara sering dan teratur.
•Anjurkan istirahat dan tidur secara sempurna.

Tujuan 2: identifikasi tanda dini infeksi dan mengatasi penyebabnya.
Intervensi:
•Catat perubahan suhu. Monitor untuk infeksi.
•Atur obat-obatan berikut yang mengindikasikan setelah perkembangan dan test sensitivitas antibiotik seperti penicillin, gentamisin, tetracycline, cefoxitin, chloramfenicol atau metronidazol. Oxitoksin seperti ergonovine atau methyler gonovine.
•Hentikan pemberian ASI jika terjadi mastitis supuratif.
•Pertahankan input dan output yang tepat. Atur pemberian cairan dan elektrolit secara intravena, jangan berikan makanan dan minuman pada pasien yang muntah
•Pemberian analgetika dan antibiotika.

b.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, anoreksia, mual, muntah, dan pembatasan medis.
Tujuan : Setelah diberikan askep diharapkan nutrisi klien terpenuhi dengan kriteria hasil: Nafsu makan meningkat, mual muntah tidak terjadi.
Intervensi :
•Anjurkan pilihan makanan tinggi protein, zat besi, dan vitamin C, bila masukkan oral dibatasi.
•Tingkatkan masukan sedikitnya 2000ml/hari jus, sup, dan cairan lain.
•Anjurkan istirahat/ tidur secukupnya
•Berikan cairan atau nutrisi parenteral, sesuai indikasi
•Berikan preparat zat besi dan/atau vitamin sesuai indikasi.

c.Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi.
Tujuan : Setelah diberikan askep, diharapkan nyeri hilang atau berkurang dengan kriteria hasil :pasien tampak rileks, skala nyeri 0-3.
Intervensi :
•Kaji lokasi dan ketidaknyamanan atau nyeri
•Instruksikan klien dalam melakukan teknik relaksasi
-Berikan analgetik atau antipiretik.
•Berikan kompres panas lokal dengan menggunakan lampu pemanas atau rendam duduk sesuai indikasi.

d.Resiko tinggi terhadap perubahan menjadi orang tua berhubungan dengan infeksi pada proses persalinan, penyakit fisik, ancaman yang dirasakan pada kehidupan sendiri.
Tujuan : Setelah diberikan askep diharapkan klien menunjukkan perilaku kedekatan terus menerus selama interaksi orangtua-bayi.
Intervensi :
•Berikan kesempatan untuk kontak ibu-bayi kapan saja memungkinkan.
•Pantau respons emosi klien terhadap penyakit dan pemisahan dari bayi, seperti depresi dan marah.
•Anjurkan klien menyusui bayi bila memungkinkan dan meningkatkan partisipasinya dalam perawatan bayi saat infeksi teratasi.
•Observasi interaksi bayi-ibu
•Buat rencana untuk tindak lanjut evaluasi yang tepat trehadap interaksi/respons ibu-bayi

4.Evaluasi
Dx 1 :
•Tidak terjadi tanda-tanda infeksi.
•Klien mengungkapkan pemahaman tentang faktor resiko penyebab secara individual.
-Klien dapat melakukan prilaku untuk membatasi penyebaran infeksi dengan tepat, menurunkan resiko komplikasi.
•Klien dapat sembuh tepat waktu, bebas dari komplikasi tambahan.

Dx 2 :
•Nutrisi klien terpenuhi.
•Nafsu makan meningkat.
•Tidak terjadi mual muntah.
•Pemasukan oral yang adekuat.

Dx 3 :
•Nyeri hilang atau berkurang.
•Skala nyeri 0-3
•Wajah tidak meringis.

Dx 4 :
•Klien menunjukkan perilaku kedekatan terus-menerus selama interaksi dengan bayinya.
•Klien mempertahankan/melakukan tanggungjawab untuk perawatan fisik dan emosi terhadap bayi baru lahir sesuai kemampuan.
•Klien dapat mengekspresikan kenyamanan dengan peran menjadi orangtua.

Daftar Pustaka

Doenges, E. Marilynn. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi : Pedoman untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien Edisi 2. Jakarta : EGC.
Sastrawinata, Sulaiman, et. al. 2004. Ilmu Kesehatan Reproduksi : Obstetri Patologi Edisi 2. Jakarta : EGC.
Mansjoer, arif, et.al. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga, Cetakan Kedua. Jakarta : Media Aesculapius.
Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika.
Varney, Helen, et.al. 2001. Buku Saku Bidan. Jakarta : EGC.

Sabtu, 26 Februari 2011

Penyakit Jantung Katup

gambar jantung beserta katup-katupnya

 


Penyakit jantung kantup seringnya disebabkan oleh demam rematik. Demam rematik biasa terjadi pada anak 5-15 tahun. Proses infeksi berlangsung terus hingga pada usia 10 tahun menyerang katup.
DEMAM REMATIK
Penyebabnya
Infeksi streptococcus b hemolitikus group A. Infeksi terjadi karena gigi anak-anak sering karies, terkena infeksi tonsilo pharingitis baik dengan pengobatan atau diobati sendiri. Akibat diobati sendiri antiobiotiknya tidak diminum tuntas sehingga terjadi proses autoimun karena reaksi antigen antibody.
Faktor pendukung terjadinya demam rematik antara lain: Gizi buruk, Higiene dan sanitasi rendah, Tingkat hunian rumah padat, Sosial ekonomi rendah, biasanya mengenai anak usia 5-15 tahun.
Patofisiologi
Reaksi autoimun terhadap Antigen Streptokokus beta hemolitikus grup A.
Diagnosis demam rematik berdasarkan 2 kreatia mayor atau 1 kriteria mayor dengan 2 kriteria minor.
Kriteria mayor:
- karditis (perikarditis, miokarditis, endokarditis),
- poliartritis migra (penyakit ini menyerang pada sendi-sendi tulang yang berpindah-pindah misal pada lutut, siku, trus berpindah-pindah)
- eritema marginatum (kemerah-merahan pada kulit)
- chorea sidenham (pada pasien kelainan limfonodi kalau jalan sempoyongan kayak orang mabuk)
- subcutaneous nodul
Kriteria minor : demam, artralgia, riwayat demam rematik, pada EKG interval PR memanjang, anemi, leukositosis, LED meningkat, CRP positif.
KELAINAN JANTUNG KATUP
Di Indonesia penyebabnya lebih banyak karena demam rematik, kalau di luar negeri penyebabnya karena banyak faktor karena hygiene sanitasinya sudah baik.
Paling banyak terjadi pada katup mitral dan katup aorta.
Bisa terjadi 2 keadaan yaitu stenosis (membuka tidak sempurna) dan insufisiensi (menutup tidak sempurna).
1. MITRAL STENOSIS :
Katup mitral tidak membuka sempurna saat diastolic. Sehingga terjadi bising diastolic ketika darah masuk dari atrium sinistrum menuju ventrikulus sinister.
GEJALA (ANAMNESIS) :
Lekas lelah, palpitasi , dispneu d`effort (sesak nafas saat melakukan aktivitas), hemoptoe (batuk darah), gagal jantung sebelah kiri.
Jantung sebelah kiri terjadi bendungan karena aliran darah atrium sisnistrum terhambat.
PEMERIKSAAN FISIK
Inspeksi :
Kelainan ringan jantungnya bisa normal. Pada mitral stenosis, ruang jantung yang membesar adalah atrium sinistrum, akibatnya terjadi bendungan paru, akibatnya ventrikulus dexter ikut membesar. Kalo membesar akibtanya terjadi peningkatan aktivitas jantung kanan.
Palpasi:
Kalau jantung kanan meningkat, akibatnya ictus cordis akan bergeser ke arah lateral.
Mungkin juga teraba trill diastolik di apek. Trill itu bising jantung yang teraba di permukaan.
Perkusi :
Pada keadaan ringan bisa normal.
Pinggang jantung bisa menghilang karena terjadi pembesaran atrium sinistrum. Ictus cordis bergeser di lateral. Kalau normal, gampangannya ictus cordis berada di papilla mammae (linea midclacvicularis sinistra di SIC V). Kalau bergeser ke lateral berarti ada pembesaran di jantung sebelah kanan.
Auskultasi :
Intensitas bunyi jantung 1 meningkat, Bunyi jantung II bisa normal atau meningkat.
Mungkin terjadi opening snap.
Terdengar bising diastolk (mid diastolik murmur di apeks). Suaranya seperti genderang.
Terdapat tanda-tanda decompensasi kordis kanan.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
ECG :
- LAH (Left Atrial Hipertopi),
- RVH (Right Ventrikel Hipertropi),
- Atrial fibrilasi karena atrium kiri membesar dan ventrikel kanan membesar sehingga listrik jantung terganggu.
FOTO THORAKS :
- LAH, RVH,
- terlihat bendungan paru (apeknya akan terlihat terangkat)
EKOKARDIOGRAFI :
- Daun katup mitral anterior tampak doming (kayak kubah),
- katup mitral posterior bergerak ke anterior waktu diastolik,
- katup mitral anterior dan posterior menebal karena kalsifikasi
- dapat diukur diameter katup mitral sehingga bisa menentukan derajat MS
- mungkin terlihat trombus di LA / LV
KATETERISASI JANTUNG merupakan pemeriksaan gold standar.
2. MITRAL REGURGITASI :
Regurgitasi/insufisiensi artinya menutup tidak sempurna. Katup mitral menutup saat sistolik sehingga terjadi bising sistolik. Ruang jantung yang membesar yaitu atrium kiri. ventrikel kiri.
Sistolik yaitu keadaan di mana ventrikel memompa darah ke seluruh tubuh. Tapi katup mitral tidak menutup sempurna akibatnya terjadi kebocoran darah menuju atrium sinistrum.
GEJALA ( ANAMNESIS ) :
Lekas lelah, palpitasi, dispneu d`effort, decomp cordis
PEMERIKSAAN FISIK
Inspeksi :
Normal pada kelainan ringan.
Aktifitas jantung kiri meningkat. Akibtanya ictus cordis akan bergeser ke caudolateral. Bisa sampaik SIC 7-SIC 6.
Palpasi :
Normal pada ringan, iktus kordis bergeser ke lateral bawah, Bisa terdengar thrill sistolik.
Perkusi :
Normal / pinggang jantung menghilang (karena atrium kiri membesar), iktus kordis bergeser ke lateral bawah.
Auskultasi :
Intensitas bunyi jantung 1 melemah. Bunyi jantung 1 terdengar karena menutupnya katup atrioventrikularis (mitral dan tricuspidalis). Kalo katup mitralnya ga bisa nutup sempurna akibatnya bunyinya jadi lemah.
Bunyi jantung II Normal / meningkat,
Terdengar bunyi pan sistolik/holo sistolik murmur di apex yang menjalar ke aksila. Maksudnya terdengar bising selama sistolik. Tipe bisingnya adalah blowing.
Terdapat tanda dekompensasi kordis kiri.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. ECG : LAH, LVH, Atrial Fibrilasi.
2. FOTO THORAKS : LAH, LVH. CTR membesar (cardiomegali), ictus cordis bergeser ke caudolateral.
3. EKOKARDIOGRAFI (mengukur bentuk jantung dari dalam dengan elektromagnetik):
LAH, LVH, fungsi LV bisa normal / menurun, dapat mengukur aliran regurgitan pada saat sistol di ruang LA / menentukan derajat MR dengan mengukur diameternya.
4. KATETERISASI JANTUNG. Mungkin tidak begitu penting di mitral stenosis/regurgitasi karena dengan echocardiografi sudah bisa terlihat.
3. AORTA STENOSIS
Katup aorta membuka tidak sempurna. Terjadi saat sistol. Sehingga terjadi bising sistolik. Ruang jantung yang membesar adalah ventrikel kiri. Karena terjadi di aorta akibatnya ira-kira ictus
GEJALA ( ANAMNESIS ) :
Pada keadaan ringan bisa tanpa keluhan atau jarang ada keluhan.
Kalau sudah berat bisa terjadi
- nyeri dada karena arteri coronaria mendapat airan darah dari aorta. Kalo aorta stenosis akibatnya darah yang dipompa jadi berkurang. Akibatnya yang ngalir ke arteri coronaria juga berkurang sehingg terjadi nyeri dada,
- sinkop. terjadi karena darah yang dipompa dari jantung berkurang,
- dyspnea d’effort, decomp cordis,
- sudden death walaupun tidak tejadi kelainan koroner.
PEMERIKSAAN FISIK
- Inspeksi : normal
- Palpasi : normal / iktus kordis bergeser ke lateral bawah karena terjadi pembesaran ventrikel kiri.
- Perkusi : normal / pinggang jantung merata (karena tidak terjadi LAH), iktus kordis bergeser ke lateral bawah.
- Auskultasi : intensitas bunyi jantung normal atau menurun, bising ejeksi sistolik di Left Sternal Border III menjalar ke leher.
Aorta di SIC 3 kanan sehingga menjalar ke leher.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. ECG : Normal, pada AS berat terdapat LVH, LAH, Voltase LV meningkat.
2. FOTO THORAKS : N, pada AS berat terdapat LAH, LVH, bendungan paru.
3. EKOKARDIOGRAFI : dapat melihat daun katup, dimensi ruang jantung, fungsi LV, derajat AS
4. KATETERISASI JANTUNG
4. AORTA REGURGITASI :
Katup aorta menutup tidak sempurna saat diastolik. Ruang jantung yang membesar ventrikel kiri karena darah dari aorta masuk kembali ke ventrikel kiri. Bising yang terjadi di bising diastolik.
ETIOLOGI :
Demam rematik, Sifilis (tapi sekarang sudah jarang terjadi sifilis), Kelainan bawaan (daun katupnya tidak sempurna), Hipertensi, Atherosklerosis.
Gejala ( ANAMNESIS ) :
Ringan : tanpa / jarang ada keluhan.
Berat : nyeri dada, sinkop, palpitasi ,
dispneu d`effort ,decomp cordis .
PEMERIKSAAN FISIK
Inspeksi : Normal / aktivitas jantung kiri meningkat.
Palpasi : Normal /Iktus Kordis bergeser ke lateral bawah, thrill diastolik di apeks.
Perkusi : Normal / pinggang jantung merata, Iktus Kordis bergeser ke lateral bawah.
Auskultasi : Intensitas bunyi jantung nornal atau menurun, early diastolik murmur di Life Sternal Border III-IV, mid diastolik murmur di apeks (austin flint murmur ). Suaranya seperti ban kempes (dari tekanan tinggi ke rendah).
TANDA PERIFER AORTA REGURGITASI :
Pulsus Seler, De Muscet`s sign, Quincke`s sign, Corrigan`s sign, Hill`s sign, Pistol shot sign, Traube`s sign
PEMERIKSAAN PENUNJANG
ECG : N, Pada AR berat terdapat LVH, LAH.
FOTO THORAKS : N, pada yang berat terdapat LAH, LVH, bendungan paru.
EKOKARDIOGRAFI : melihat daun katup, mengukur dimensi ruang jantung, mengukur derajat AR.
KATETERISASI JANTUNG
PENATALAKSANAAN :
NON MEDIKAMENTOSA : perawatan, diberi nutrisi
Tindakan operasi : balloon dengan cara kateterisasi , ganti katup jika sudah sangat berat.
Rehabilitasi medik
MEDIKAMENTOSA :
Antibiotika untuk Streptokokus, Diuretika, Inotropik, Beta blocker, ACE Inhibitor, Anticoagulan, Antiaritmia

Selasa, 22 Februari 2011

 ANATOMI FISIOLOGI SISTIM PERSARAFAN

 
Anatomi fisiologi sistem persarafan manusia secara garis besar terdiri dari dua bagian, yaitu sistem saraf pusat, yang terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang, dan sistem saraf tepi atau perifer. Otak terletak di bagian dalam tengkorak kepala, sedangkan sumsum tulang belakang berlokasi di bagian dalam tulang belakang. Berbeda dengan otak dan sumsum tulang belakang, sistem saraf tepi terletak di semua bagian tubuh. Melalui serabut-serabut saraf, sistem saraf ini menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang dengan bagian-bagian tubuh lainnya.
Otak dan Sumsum Tulang Belakang
Melihat kehebatan fungsinya, tidak terlalu berlebihan bila ada yang mengatakan bahwa otak merupakan salah satu sistem paling canggih di jagad raya. Hal tersebut tentu saja didukung oleh anatominya yang kompleks. Secara garis besar, otak manusia dan hewan vertebrata dibagi menjadi bagian serebrum (otak besar), serebelum (otak kecil), diensefalon, mesensefalon (otak tengah), pons Varolli, dan medula oblongata.
Serebrum terletak di bagian depan-atas kepala manusia dan dibagi menjadi dua belahan atau hemisfer, yaitu hemisfer kiri dan kanan. Bagian ini mengatur aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan pengolahan rangsang indra-indra tubuh kecerdasan, ingatan (memori), kesadaran, dan pembuatan keputusan. 
Selain serebrum, otak memiliki bagian-bagian lain yang berukuran lebih kecil. Berbeda dengan namanya, sebenarnya serebelum atau otak kecil ini memiliki ukuran yang relatif besar dalam kepala manusia, namun memang lebih kecil dari serebrum. Bagian ini berfungsi dalam koordinasi pergerakan dan menerima informasi data dari serebrum dan bagian-bagian tubuh yang berhubungan dengan pergerakan.
Serebelum terletak di bagian belakang-bawah serebrum. Diensefalon terutama terdiri dari talamus dan hipotalamus. Bagian ini berperan dalam pengaturan rangsangan yang diterima tubuh, mengendalikan suhu tubuh, terlibat dalam pengaturan lapar dan haus, dan lain sebagainya. Mesensefalon terdiri dari tektum dan pedunkel serebrum. Bagian ini terlibat dalam proses pendengaran, penglihatan, dan pengaturan homeostasis tubuh. Pons varolli atau jembatan varol memiliki serabut-serabut saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, menghubungkan otak besar, dan sumsum tulang belakang. Medula oblongata berperan dalam penghantaran rangsang dari sumsum tulang belakang ke otak. Bagian ini juga berperan dalam beberapa jenis gerakan reflek, detak jantung, tekanan darah, dan kecepatan pernapasan.
Sumsum tulang belakang memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda dengan otak. Bagian yang juga dikenal sebagai medula spinalis ini berperan penting dalam menyampaikan rangsangan sensoris dan motorik baik dari tubuh ke otak maupun sebaliknya. Bagian ini juga sangat vital karena fungsi-fungsinya berkaitan erat dengan sistem dan kerja organ tubuh, seperti pencernaan, peredaran darah, sistem imun, dan lain sebagainya.
Sistem Saraf Tepi
Secara anatomi fisiologi sistem persarafan manusia, seluruh rangsang tubuh yang diterima dan respon yang diberikan oleh otak dan sumsum tulang belakang disampaikan ke tubuh oleh sistem saraf tepi. Sistem ini dibagi menjadi sistem saraf sadar dan otonom. Sistem saraf sadar mengatur kerja yang dilakukan secara sadar, misalkan gerakan otot, sedangkan sistem saraf otonom mengatur kerja organ tubuh yang tidak dikendalikan secara sadar, seperti detak 
jantung dan pencernaan.
Sistem saraf otonom manusia dibagi menjadi simpatik dan parasimpatik. Kedua sistem saraf ini bekerja secara antagonis atau berlawanan. Contoh dari kedua sistem ini adalah pembesaran pupil oleh sistem saraf simpatik dan pengecilannya oleh parasimpatik. Kecepatan denyut jantung juga dipengaruhi oleh kerja kedua sistem saraf ini.Ditinjau dari perspektif selulernya, sistem saraf disusun oleh tiga jenis sel, yaitu sel saraf (neuron), sel glia (sel penyokong), dan sel Schwann.
Sel-sel Saraf
Neuron memiliki kemampuan dalam menerima dan menyampaikan rangsang. Jenis sel ini memiliki tiga bagian, yaitu badan sel, dendrit (juluran pendek), dan akson (juluran panjang). Neuron lain memberikan rangsang yang diterima oleh dendrit di suatu neuron. Bila rangsangannya cukup kuat (mencapai suatu nilai ambang batas), rangsang akan diteruskan ke akson, yang kemudian meneruskannya ke neuron-neuron lainnya. Neuron tidak dapat beregenerasi atau memperbanyak diri, sehingga tidak dapat tergantikan apabila mati. Neuron di otak dan sumsum tulang belakang dilindungi, disokong, dan diisolasi oleh sel glia. Pada sistem saraf tepi, fungsi tersebut dijalankan oleh sel Schwann.